Latest Posts

Fenomena Munculnya Penulis Diary dan Penulis Laporan dalam Lomba Penulisan Cerpen

By 7/17/2017 11:25:00 PM


Menulis cerpen merupakan kegiatan mengasyikan bagi mereka yang gemar dan terbiasa menulis. Ide yang berkeliaran di kepala akan sangat seru jika dituangkan ke dalam tulisan untuk kemudian dinikmati pembaca. Oleh sebab itu, ketika ada suatu info mengenai lomba/sayembara penulisan cerpen, banyak sekali orang tergiur untuk sekadar berpartisipasi. Karena perlombaan termasuk salah satu tantangan yang harus dilewati demi mengukur seberapa jauh kemampuan menulis seseorang.

Hal yang perlu diperhatikan ketika menulis cerpen adalah bagaimana agar cerpen kita bisa menghipnotis pembaca, dalam hal ini berarti juri. Konflik cerita termasuk salah satu bagian penting untuk menarik pembaca. Cerpen membutuhkan konflik sebagai jantung untuk menghidupkan cerita. Jika cerita yang ditulis mengisahkan pengalaman pribadi (sudut pandang orang pertama) secara murni tanpa ada konflik, maka tidak ada bedanya dengan tulisan diary. Dan jika cerita yang ditulis mengisahkan hidup orang lain (sudut pandang orang ketiga) secara murni tanpa ada konflik, maka tidak ada bedanya dengan tulisan laporan.

Pembaca cerpen akan sangat tertarik jika cerpen kita berhasil mengajak pembaca untuk terlibat dan seakan-akan masuk ke dalam cerita (dikenal dengan istilah show), bukan justru seolah-olah sedang mendengarkan sebuah legenda zaman dulu dari mulut nenek kita (dikenal dengan istilah tell). Nah, jika kita cermati, sebagian besar tulisan berupa diary dan laporan dikerjakan menggunakan teknik tell. Sedangkan cerpen yang bagus adalah cerpen yang ditulis menggunakan teknik show.

Lantas mengapa fenomena penulis diary dan penulis laporan ini sering muncul? Karena penulis menempatkan posisinya hanya sebagai penulis, sehingga tidak tahu apakah cerpennya menarik di mata pembaca atau tidak. Memposisikan diri sebagai pembaca merupakan trik sederhana untuk menebak ketertarikan juri terhadap cerpen kita. Of course, sebagai penulis, kita wajib gemar membaca karena membaca adalah kebutuhan pokok bagi seorang penulis. Terlepas cerpen yang kita tulis layak menang atau tidak, itu urusan nanti. Yang terpenting adalah cerpen kita dapat menarik minat juri untuk membaca sampai tuntas. Kalau kita masih mengirim diary atau laporan ke lomba penulisan cerpen, kemungkinan besar juri malas membaca hingga ending. Sampai di situ, sudah bisa disimpulkan bagaimana nasib cerpen kita dalam sebuah lomba penulisan cerpen.

Bagaimana dengan kita? Termasuk penulis yang manakah kita? Penulis diary, penulis laporan, atau penulis cerpen yang sesungguhnya? Mari renungkan!

You Might Also Like

0 komentar