Latest Posts

Lomba Menulis Cerpen Tema “On the Way” (Deadline 15 Agustus 2018 Pukul 23.00 WIB)



Seringkali seseorang menemui banyak kejadian aneh, mengerikan, romantis, atau bahkan kejadian yang bermakna dalam ketika sedang melakukan perjalanan.  Penerbit Hanami mengajak kamu untuk menuliskan kejadian-kejadian selama perjalanan, menjadi sebuah cerpen yang asik dan menarik. Boleh kisah nyata, boleh juga rekaan/fiksi. Lomba ini gratis dan bisa diikuti oleh semua penulis, tidak ada batasan usia.



Syarat dan Ketentuan:


1. Follow Instagram @penerbit.hanami dan @blubhandmade (syarat wajib, jadi semua peserta harus memiliki akun Instagram)


2. Repost/reshare/regram info lomba ini di akun Instagram kamu lalu tag/tandai akun Instagram @penerbit.hanami dan @blubhandmade  (syarat wajib, jadi semua peserta harus memiliki akun Instagram)


3. Follow Twitter @PenerbitHanami, like Fanpage Penerbit Hanami, add Line @penerbithanami (syarat optional)


4. Naskah harus orisinil, tidak menyinggung SARA, dan tidak sedang diikutkan dalam lomba serupa


5. Naskah berupa cerpen dengan tema “On the Way”. Genre cerpen bebas, di antaranya romance, fantasi, thriller, horor, misteri, dan lain-lain.


6. Diketik dalam MS. Word dengan panjang 3-5 halaman kertas A4 (sudah termasuk biodata narasi maksimal 50 kata), Times New Roman, 12, spasi 1.5, justify (rata kanan dan kiri)


7. Kirimkan naskahmu tersebut dalam bentuk attachment/lampiran (bukan ditulis di badan email) ke email berikut: penerbit.hanami@gmail.com. Mohon dikirim satu kali saja, kalau alamat email sudah sesuai maka naskah sudah pasti masuk dan siap diseleksi/dinilai.


8. Cantumkan “OTW - Judul naskah - Nama penulis” pada kolom subjek email. Nama file naskah harus sama dengan subjek email. TIDAK MENERIMA REVISI


9. Satu peserta hanya boleh mengirim satu naskah, naskah yang sudah masuk ke e-mail otomatis terdaftar menjadi peserta dan akan didata secara berkala di www.penerbithanami.com. Pengumuman 25 cerpen terpilih maksimal dua minggu setelah deadline






Catatan:

- Hadiah voucher penerbitan digunakan sebagai keringanan biaya untuk menerbitkan naskah di Penerbit Hanami, tidak bisa digunakan untuk membeli buku atau diganti uang tunai

- 1 pemenang utama dan 24 penulis terpilih berhak mendapatkan diskon 25% untuk setiap pembelian buku terbit hasil lomba. Diskon ini sebagai royalti yang bisa diperoleh dengan cara membeli buku dengan harga penulis lalu menjual kembali dengan harga umum



Mohon budayakan membaca info sampai tuntas sebelum bertanya. Selamat berkarya.



Salam literasi,

Tim Hanami

Perbedaan Penerbit Indie dan Penerbit Mayor


Sahabat Hanami, kamu mungkin bertanya-tanya tentang istilah ‘penerbit indie’ yang tertera di atas banner blog ini. Di media sosial Hanami seperti Instagram, Twitter, Fanpage, juga memuat keterangan yang sama. Masih asing dengan istilah tersebut? Sebenarnya apa itu penerbit indie?

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, penerbit indie adalah sebuah alternatif untuk menerbitkan buku atau media yang lain yang dilakukan penulis naskah bukan dari penerbitnya. Walaupun ini memiliki persentase pasar yang sangat kecil bila dibandingkan dengan penerbit pada umumnya dalam hal penjualan, tetapi ini telah hadir menjadi sebuah bentuk baru.  

Sebagian besar orang awam hanya tahu satu jenis penerbit yaitu penerbit mayor. Bahkan beberapa penulis juga hanya mengenal penerbit mayor. Pengertian penerbit mayor tidak perlu dijelaskan panjang-panjang ya karena sebagian besar penulis pasti sudah tahu. 

Untuk mengetahui perbedaan dua jenis penerbit itu secara mendalam, yuk simak uraian berikut!

 
1. Naskah yang Diterbitkan

Penerbit Indie:
Semua naskah, dengan syarat tidak memuat unsur SARA, dsb (tergantung peraturan penerbit). 

Penerbit Mayor:
Naskah yang dipilih melalui seleksi ketat. Biasanya penerbit mayor memiliki kriteria tertentu tentang jenis naskah apa saja yang diterima.
 

2. Biaya 

Penerbit Indie:
Berbayar. Penulis harus menanggung biaya jasa penerbitan (berupa jasa pembuatan desain sampul, jasa layout, jasa editing), biaya cetak buku, bahkan jika penulis menginginkan bukunya didistribusikan ke toko buku pun harus membayar biaya distribusi (namun tidak semua penerbit indie membuka jasa distribusi).
 
Penerbit Mayor:
Tidak berbayar. Semua jasa penerbitan, biaya cetak masal, dan distribusi ditanggung sepenuhnya oleh penerbit. Penulis tinggal menunggu laporan penjualan/royalti.


3. Proses Penyiapan Naskah

Penerbit Indie:
Editor akan memeriksa naskah dari segi ejaan, kata baku, tanda baca, memberi masukan, bahkan mengembalikan naskah kepada penulis untuk melakukan revisi atau perombakan demi kualitas terbit yang bagus. Meski begitu, keputusan akhir tetap di tangan penulis.  Artinya editor tidak memaksa penulis untuk melakukan proses penyiapan naskah seperti di atas. 

Penerbit Mayor:
Setelah naskah lolos seleksi, editor memantau penuh terkait sejauh mana naskah penulis dinyatakan bisa terbit. Jika masih ada beberapa keganjilan atau kekeliruan, maka penulis wajib merevisi atau mungkin merombak sesuai batas waktu yang ditentukan editor. Sehingga keputusan akhir ada di tangan editor bukan penulis.
 

4. Waktu Penerbitan  

Penerbit Indie:
Cepat. Begitu penulis membayar biaya sesuai paket penerbitan yang berlaku, maka naskah langsung diproses. Penulis tinggal menunggu informasi selanjutnya dari pihak penerbit.  

Penerbit Mayor:
Lama. Karena menerapkan aturan seleksi, redaksi penerbit mayor membutuhkan waktu untuk menyeleksi. Bisa sangat lama jika naskah yang harus diseleksi sangat banyak.   


5. Sistem Promosi 

Penerbit Indie:
Diatur oleh penulis karena penulis bertanggung jawab penuh. Meski begitu, penerbit juga ikut mempromosikan buku untuk mencapai hasil penjualan yang optimal. 
  
Penerbit Mayor:
Diatur oleh penerbit karena penebit bertanggung jawab penuh. Meski begitu, penulis juga ikut mempromosikan buku untuk mencapai hasil penjualan yang optimal.  


6. Sistem Distribusi

Penerbit Indie
Buku tidak didistribusikan ke toko buku kecuali penulis berminat mendistribusikan, otomatis penulis mengeluarkan biaya lagi untuk proses pendistribusiannya.
 
Penerbit Mayor:
Buku didistribusikan ke toko buku, penulis tinggal menunggu laporan penjualan/royalti. 


7. Jumlah Buku yang Dicetak 

Penerbit Indie:
Tergantung pesanan. Beberapa penerbit indie menyediakan paket penerbitan yang sudah jadi satu dengan biaya cetak beberapa eksemplar. Dalam hal ini sistem royalti tidak berlaku karena penulis menjual sendiri bukunya, semua keuntungan didapat penulis. 

Penerbit Mayor:
Masal. Biasanya minimal 1000 eksemplar yang kemudian didistribusikan ke toko buku.   


8. Royalti 

Penerbit Indie:
10% atau lebih, diberikan setiap bulan, tergantung kebijakan penerbit.  

Penerbit Mayor:
10% atau kurang, diberikan setiap enam bulan, tergantung kebijakan penerbit. Beberapa penerbit mayor tidak memakai sistem royalti, namun memakai sistem jual putus.  


Jika kamu sudah paham perbedaan dua jenis penerbit tersebut dan berminat menerbitkan buku di penerbit indie, maka Penerbit Hanami bisa menjadi pilihan kamu lho.



Q: Penerbit Hanami termasuk penerbit indie atau mayor? 

A: Penerbit indie.


Q: Beberapa penerbit indie menerapkan sistem seleksi, tidak berbayar, dan bukunya didistribusikan ke beberapa toko buku. Apakah Penerbit Hanami juga menerapkan sistem seperti itu? 
A: Tidak. Karena Penerbit Hanami adalah murni penerbit indie, bukan indie bersistem mayor.

Q: Apakah ada syarat lain di samping tidak mengandung unsur SARA agar naskah bisa diterbitkan Penerbit Hanami? 
A: Ada, selain tidak mengandung unsur SARA, Penerbit Hanami juga mensyaratkan naskah harus asli karya penulis, serta tidak sedang dalam proses seleksi di penerbit mayor.

Q: Berapa biaya menerbitkan naskah di Penerbit Hanami? 
A: Rp 400.000.

Q: Jika naskah berupa kumpulan puisi, apakah kemungkinan akan diberi masukan oleh editor? 
A: Ya, namun tidak banyak. Kami akan memberi masukan sebanyak-banyaknya khusus untuk naskah novel dan naskah nonfiksi bergenre motivasi dan self improvement karena dua kategori naskah tersebut lebih banyak dibutuhkan pembaca.

Q: Berapa lama proses penerbitan di Penerbit Hanami? 
A: 2-6 minggu.

Q: Bagaimana cara penulis bertanggung jawab perihal promosi? 
A: Redaksi kami akan memberi e-booklet panduan mempromosikan buku untuk dipelajari penulis.

Q: Setelah buku penulis terbit, bagaimana cara penulis menambah jumlah cetakan untuk dijual secara mandiri? 
A: Menghubungi kontak CS kami untuk melakukan pemesanan buku khusus penulis. Penulis mendapat diskon khusus sebagai pengganti royalti.

Q: Berapa persen royalti yang didapat penulis yang menerbitkan buku di Penerbit Hanami? 
A: 25%.

Untuk mengetahui info-info umum lainnya tentang Penerbit Hanami silakan klik Tentang Hanami. Untuk mengetahui apa saja paket penerbitan yang berlaku di Penerbit Hanami silakan klik Paket Penerbitan. Dan untuk mengetahui format kirim naskah silakan klik Kirim Naskah. Ada pertanyaan? Jangan ragu untuk menghubungi kontak resmi Penerbit Hanami yaitu WhatsApp 08989051690 dan Line OA penerbithanami (pakai @).

Menerbitkan Novel di Penerbit Indie? Why Not?



Ada yang merasa maju-mundur mau menerbitkan novel ke penerbit indie? Tiba-tiba merasa tidak pede, minder, takut, lalu kepikiran ‘nanti ada yang minat baca dan beli novelku atau tidak’. Atau merasa khawatir dipandang sebelah mata karena novel kamu terbit secara indie, di mana tidak ada proses seleksi, asal mau bayar bisa deh langsung terbit.

Nah daripada galau, baca tips dari Hanami dulu yuk, Kak.


1. Ikuti lomba menulis penerbit indie untuk mengukur skill menulis


 
Kalau merasa BARU bisa menulis, kami sarankan jangan langsung menerbitkan buku di penerbit indie ya. Ikutlah lomba menulis. Kalau kamu pemula, ikutlah lomba menulis cerpen. Kalau berani menantang diri sendiri, ikutlah lomba menulis novel. Jika hasilnya lolos, artinya kamu sudah punya skill, tinggal diasah lagi maka kamu sudah punya cukup modal untuk menerbitkan novel. Jika hasilnya belum lolos, maka coba terus sampai lolos. Pokoknya jangan menyerah, ya.

2. Perbanyak membaca novel orang lain
 
Dari sekian banyak novel yang kamu baca, kamu akan menemukan novel favorit. Amati novel favorit kamu dan analisis hal-hal apa yang membuat novel itu menjadi begitu mengagumkan. Sehingga, kamu punya gambaran novel yang bagus itu seperti apa. Lalu terapkan pada naskah kamu.

3. Mulailah mencari ide menulis novel


Tingkatkan kepekaan terhadap sekitar karena ide bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Catat jika kamu menemukan hal menarik untuk dituangkan dalam novel. 

4. Membuat draft sebagai pedoman menulis novel


Sebenarnya tidak wajib membuat draft, tetapi kamu akan lebih mudah menyelesaikan novel jika kamu membuat draft terlebih dulu. Kalau tidak membuat draft, maka sampai satu tahun pun novel kamu bisa tidak selesai, lho. Waduh gawat! Buatlah draft berupa premis, sinopsis, dan outline. Penjelasan mengenai tiga hal itu bisa dicari sendiri di google, ya.

5. Menulis dengan serius 


Menulislah seolah kamu ingin membaca novel yang bagus. Oleh karena itu, lakukan riset yang mendalam, perhatikan kerapian naskah, sesuaikan dengan pedoman KBBI dan EBI. Percaya deh kalau kamu sudah sering membaca novel orang lain, maka tahap ini akan berjalan lancar. Jadi kalau tidak mau membaca, jangan harap bisa membuat novel yang bagus, ya.

6. Lakukan self-editing


Peraturan utama dalam menulis novel adalah dilarang mengandalkan editor. Editor memang bertugas mengedit naskah, namun bukan berarti kamu bebas menimpakan kesalahan penulisan sepele kepada editor, ya. Percaya atau tidak, editor penerbit mayor sekalipun akan langsung membuang naskah yang tidak rapi, banyak typo, kesalahan tanda baca di mana-mana, dan sebagainya. Kesimpulannya, kalau mau naskah kamu diedit oleh editor secara optimal, maka buatlah editor terkesan dengan naskah kamu. Caranya lakukanlah self-editing.

7. Kirim naskah ke penerbit indie untuk diterbitkan
Dalam tahap ini, silakan aktif berdiskusi dengan penerbit indie. Apakah naskah kamu butuh direvisi? Jika iya, maka kamu harus siap-siap merevisi. Jika tidak, maka silakan menunggu proses penerbitan. Tunggulah dengan sabar, tidak perlu rajin bertanya kapan buku kamu terbit. Jangan ragu juga untuk berdiskusi dengan pihak penerbit kalau kamu punya ide untuk mempromosikan novel kamu nantinya.

Pada akhirnya, penerbit indie hanya bertugas memfasilitasi, ya karena semua tergantung masing-masing penulis? Tentu ingin karya kamu dihargai kan? Tidak ingin dipandang sebelah mata kan? Apalagi karya berupa novel yang mana proses pembuatannya membutuhkan tenaga ekstra, juga mengorbankan banyak waktu.

Silakan share ke teman-teman kamu jika tips ini bermanfaat.